Tragedi Karbala, Asyura dan Nasihat Ulama atas Konflik Politik Berdarah

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 19:20 WIB
Tragedi Karbala, Asyura, dan Nasihat Ulama atas Konflik Politik Berdarah ( )
Tragedi Karbala, Asyura, dan Nasihat Ulama atas Konflik Politik Berdarah ( )

Kobaran.com - Hari Asyura atau 10 Muharram merupakan momen penting bagi umat Muslim. Sejumlah riwayat mencatat setidaknya ada 12 peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari tersebut seperti diciptakannya Nabi Adam, diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun, diselamatkannya Nabi Yunus setelah sekian lama berada di dalam perut ikan, dan lain sebagainya. 

Salah satu peristiwa penting pada momen Asyura adalah konflik berdarah antara kelompok Yazid bin Muawiyah dan Husein bin Ali yang dikenal dengan Tragedi Karbala. Konflik yang mengakibatkan terbunuhnya cucu Nabi ini merupakan warisan dari pemerintahan sebelumnya, yaitu Gubernur Damaskus, Muawiyah bin Abu Sufyan dari Bani Umayyah dan Ali bin Abi Thalib sang khalifah. 

Mulanya Muawiyah menuntut Ali agar segera mengusut pembunuh Utsman bin Affan. Karena Ali belum juga bertindak dengan alasan situasi masih memanas, Muawiyah melakukan pemberontakan dan berusaha untuk merongrong serta merebut kursi kekhalifahan. Konflik kedua kubu ini terus berlanjut dan diwariskan kepada pemerintahan selanjutnya. 

Utamakan Prasangka Baik 

Bagaimanapun tragedi Karbala merupakan fakta sejarah yang sudah dicatat sejumlah sejarawan dan akan disampaikan terus menerus. Hal ini tidak menuntut kemungkinan memunculkan citra negatif terhadap sahabat Nabi, padahal kualifikasi mereka sebagai generasi Muslim terbaik. Bagaimana mungkin sekelas sahabat bisa sampai konflik saudara yang begitu memilukan? 

Bagaimana sikap terbaik kita terkait Tragedi Karbala? Padahal, sebagai Muslim kita dituntut untuk tetap menghormati dan berprasangka baik kepada para sahabat. 

Sejumlah ulama berwasiat kepada kita agar tetap menaruh prasangka baik. Sebab, berprasangka buruk terhadap para sahabat apalagi sampai mencacinya adalah haram. Imam an-Nawawi menjelaskan konflik berdarah yang terjadi antara sahabat Nabi tidak masuk dalam ancaman hadits yang menjelaskan jika dua pihak Muslim bertikai maka baik yang membunuh atau terbunuh akan masuk neraka. Berikut haditsnya: 

إِذَا الْتقَى الْمُسْلِمَانِ بسيْفيْهِمَا فالْقاتِلُ والمقْتُولُ في النَّارِ .قُلْتُ: يَا رَسُول اللَّهِ، هَذَا الْقَاتِلُ فمَا بَالُ الْمقْتُولِ؟ قَال: ” إِنَّهُ كَانَ حَرِيصاً عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ” متفقٌ عليه 

Artinya, “Rasulullah saw bersabda, ‘Apabila dua orang muslim bertemu dengan membawa pedang maka orang yang membunuh dan yang dibunuh akan masuk neraka.’ Aku (Nufail) berkata, ‘Wahai Rasulullah, si pembunuh (layak masuk neraka), maka bagaimana dengan orang yang dibunuh (mengapa juga masuk neraka)?’ Rasul menjawab, ‘Karena ia juga ingin membunuh (berniat atau sengaja membunuh saat bertengkar) temannya.’” (Muttafaq ‘alaih) 

Halaman:

Editor: Maria H.R Waju

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ramalan Zodiak Lengkap Jumat 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022 | 06:12 WIB

Simak Ramalan Zodiak Hari Jumat 30 September 2022

Kamis, 29 September 2022 | 14:47 WIB

10 Kepribadian Orang yang Lahir di Bulan Oktober

Kamis, 29 September 2022 | 06:14 WIB
X